Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan
Masjid Sultan Suriansyah, masjid tertua
di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tanggal
26 Desember 2011
-------------
Masjid
Sultan Suriansyah atau Masjid Kuin adalah sebuah masjid bersejarah di Kota
Banjarmasin yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini
dibangun pada masa pemerintahan Sultan
Suriansyah (1526-1550), Raja Banjar pertama
yang memeluk agama Islam. Masjid Kuin merupakan salah satu dari tiga masjid
tertua yang ada di kota Banjarmasin pada masa Mufti Jamaluddin (Mufti
Banjarmasin), masjid yang lainnya adalah Masjid Besar (cikal bakal Masjid Jami
Banjarmasin) dan Masjid Basirih. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara,
kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan situs ibu kota Kesultanan
Banjar yang pertama kali. Masjid ini letaknya berdekatan dengan komplek makam
Sultan Suriansyah dan di tepian kiri sungai Kuin. Masjid yang didirikan di tepi
sungai Kuin ini memiliki bentuk arsitektur tradisional Banjar, dengan
konstruksi panggung dan beratap tumpang. Pada bagian mihrab masjid ini memiliki
atap sendiri yang terpisah dengan bangunan induk.
Mimbar Masjid Sultan Suriansyah.
--------------
Masjid
kuno
Kekunoan
masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang
berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm yakni pada dua daun pintu Lawang
Agung. Pada daun pintu sebelah kanan terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu
berbunyi : " Ba'da hijratun Nabi Shalallahu 'alahihi wassalam sunnah 1159
pada Tahun Wawu ngaran Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam
tanah tinggalan Yang mulia." Sedangkan pada daun pintu sebelah kiri
terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi: "Kiai Damang Astungkara
mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari
Isnain pada sapuluh hari bulan Sya'ban tatkala itu (tidak terbaca)" . Kedua
inskripsi ini menunjukkan pada hari Senin tanggal 10 Sya'ban 1159 telah
berlangsung pembuatan Lawang Agung (pintu utama) oleh Kiai Demang Astungkara
pada masa pemerintahan Sultan Sepuh atau Sultan Tamjidullah I (1734-1759).
Pada
mimbar yang terbuat dari kayu ulin terdapat pelengkung mimbar dengan kaligrafi
berbunyi "Allah Muhammadarasulullah". Pada bagian kanan atas terdapat
tulisan "Krono Legi : Hijrah 1296 bulan Rajab hari Selasa tanggal
17", sedang pada bagian kiri terdapat tulisan : "Allah subhanu wal
hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri". Ini berarti pembuatan mimbar pada
hari Selasa Legi tanggal 17 Rajab 1296, atas nama Haji Muhammad Ali al-Najri.
Masjid Kuin (foto lama)
------------------
Filosofi
ruang
Pola
ruang pada Masjid Sultan Suriansyah merupakan pola ruang dari arsitektur Masjid
Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini
oleh Khatib Dayan. Arsitektur mesjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh
arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu. Identifikasi pengaruh arsitektur
tersebut tampil pada tiga aspek pokok dari arsitektur Jawa Hindu yang dipenuhi
oleh masjid tersebut. Tiga aspek tersebut : atap meru, ruang keramat (cella)
dan tiang guru yang melingkupi ruang cella. Meru merupakan ciri khas atap
bangunan suci di Jawa dan Bali. Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke
atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas. Bangunan
yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki tingkat atap paling banyak
dan paling tinggi. Ciri atap meru tampak pada Masjid Sultan Suriansyah yang
memiliki atap bertingkat sebagai bangunan terpenting di daerah tersebut. Bentuk
atap yang besar dan dominan, memberikan kesan ruang dibawahnya merupakan ruang
suci (keramat) yang biasa disebut cella. Tiang guru adalah tiang-tiang yang
melingkupi ruang cella (ruang keramat). Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang
guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih
penting dari mihrab.
Halaman depan Masjid Sultan Suriansyah.
------------------
Pengimaman yang beratap terpisah dengan
bangunan induk
------------------
Catatan
kaki
^
(Indonesia) Zein, Abdul Baqir (1999). Masjid-masjid bersejarah di Indonesia.
Gema Insani. hlm. 328. ISBN 979-561-567-X.ISBN 978-979-561-567-5
^
(Indonesia) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2005). Sejarah dan dialog
peradaban: persembahan 70 tahun Prof. Dr. Taufik Abdullah. Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia. ISBN 979-3673-84-2.ISBN 978-979-3673-84-4
^
Perhitungan kalender Aboge, dalam kurun waktu delapan tahun atau satu windu
dengan urutan terdiri tahun Alif (1153), Ha (1154), Jim awal (1155), Za (1156),
Dal (1157), Ba (1158), Wawu (1159), dan Jim akhir (1160)




